MAKALAH MASTITIS PDF

Kemungkinan wanita yang mengalami mastitis ini karena adanya faktor-faktor predisposisi seperti faktor kekebalan ASI yang rendah, sehingga dapat dengan mudah mengalami infeksi utamanya pada payudara mastitis. Asupan nutrisi yang tidak adekuat dan lebih banyak mengandung garam dan lemak juga dapat memicu terjadinya mastitis, adanya riwayat trauma pada payudara juga dapat menjadi penyebab terjadinya mastitis karena adanya kerusakan pada kelenjar dan saluran susu. Infeksi mammae pada kehamilan sebelumnya juga dapat menjadi penyebab terjadinya mastitis. Jika tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat, maka dapat timbul berbagai komplikasi seperti abses payudara, infeksi berulang dan infeksi jamur. Oleh sebab 16 itu, perlu dilakukan tindakan pencegahan yang tepat, misalnya memberikan info tentang perawatan payudara, teknik menyusui yang benar, dsb.

Author:Goltisho Kile
Country:Iraq
Language:English (Spanish)
Genre:Literature
Published (Last):17 August 2011
Pages:94
PDF File Size:17.53 Mb
ePub File Size:16.85 Mb
ISBN:372-8-90806-842-3
Downloads:75616
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Miramar



Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi. Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca.

Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi. Infeksi ini terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah Prawirohadjo, Mastitis adalah peradangan payudara, yang dapat disertai atau tidak disertai dengan infeksi.

Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Kadang-kadang keadaan ini dapat menjadi fatal apabila tidak diberi tindakan yang adekuat. Mastitisjuga seringkali disebut sebagai abses payudara, dimana terjadi pengumpulan nanah lokal di dalam payudara.

Keadaan ini menyebabkan beban penyakit yang berat dan memerlukan biaya yang sangat besar untuk pengobatannya. Penelitian terbaru juga ada yang menyatakan bahwa mastitis dapat meningkatkan risiko penularan HIV melalui menyusui. Pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat teknik menyusui yang kurang benar merupakan penyebab yang penting, tetapi pada kenyataannya saat ini masih banyak petugas kesehatan yang menganggap bahwa mastitis masih sama dengan infeksi payudara.

Mereka sering tidak mampu membantu pasien mastitis untuk terus menyusui, dan mereka bahkan mungkin menyarankan pasien tersebut untuk berhenti menyusui, yang sebenarnya hal tersebut tidak perlu. Bagi mahasiswa, hasil makalah diharapkan dapat memberikan pemahaman dan pengertian terhadap pentingnya kesehatan dan mampu memberikan asuhan keperawatan dengan benar.

Bagi penulis, makalah ini diharapkan dapat menambah dan meningkatkan wawasan, pengetahuan dan pengalaman belajar yang terkait dengan masalah pada sistem reproduksi wanita, yaitu penyakit mastitis inisehingga dalam mempraktikkan ilmu yang terkait akan lebih mudah.

Payudara yang mengalami mastitis Mastitis adalah radang pada payudara yang terjadi biasanya pada masa nifas atau sampai 3 minggu setelah persalinan penyebabnya adalah sumbatan saluran susu dan pengeluaran ASI kurang sempurna.

Peradangan payudara adalah suatu hal yang sangat biasa pada wanita yang pernah hamil ,malahan dalam praktek sehari- hari yang tidak hamil pun kadang-kadang kita temukan dengan mastitis. Bilamana pembesaran payudara hampir terjadi pada semua wanita pada dua sampai tiga hari pertama setelah kelahiran,tetapi jarang akan menetap dan biasanya tidak disertai dengan peningkatan temperature yang lebih tinggi.

Kongesti cenderung terjadi 4 menyeluruh dengan pembesaran vena superficial. Mastitis adalah infeksi payudara yang kebanyakan terjadi pada ibu yang baru pertama kali menyusui bayinya. Mastitis hampir selalu unilateral dan berkembang setelah terjadi aliran susu.

Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang disebabkan oleh kuman terutama Staphylococcus aureus melalui luka pada puting susu atau melalui peredaran darah. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Kadang-kadang keadaan ini bisa menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat memadai. Klasifikasi mastitis Mastitis lazim dibagi dalam 1 mastitis gravidarum, dan 2 mastitis puerperalis, karena memang penyakit ini boleh dikatakan hampir selalu timbul pada waktu hamil dan laktasi Berdasarkan tempatnya dapat dibedakan: 1.

Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae. Mastitis di tengah-tengah mamma yang menyebabkan abses di tempat itu. Mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mamma dan otot-otot di bawahnya.

Mastitis periductal Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause, penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan mammary duct ectasia, yang berarti peleburan saluran karena adanya penyumbatan pada saluran di payudara. Penyebab utama mastitis puerperalis yaitu kuman yang menginfeksi payudara ibu, yang ditransmisi ke puting ibu melalui kontak langsung. Penyebabnya bisa dari kuman Staphylococcus, jamur, kuman TBC dan juga sifilis.

Infeksi kuman TBC memerlukan penanganan yang ekstra intensif dan drainage yang adekuat. Faktor risiko Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko mastitis, yaitu : 1.

Umur Wanita berumur tahun lebih sering menderita mastitis dari pada wanita di bawah usia 21 tahun atau di atas 35 tahun. Paritas Mastitis lebih banyak diderita oleh primipara. Serangan sebelumnya Serangan mastitis pertama cenderung berulang, hal ini merupakan akibat teknik menyusui yang buruk yang tidak diperbaiki. Melahirkan Komplikasi melahirkan dapat meningkatkan risiko mastitis. Gizi Asupan garam dan lemak tinggi serta anemia menjadi faktor predisposisi terjadinya mastitis.

Antioksidan dari vitamin E, vitamin A dan selenium dapat mengurangi resiko mastitis. Stres dan kelelahan Wanita yang merasa nyeri dan demam sering merasa lelah dan ingin istirahat, tetapi tidak jelas apakah kelelahan dapat menyebabkan keadaan ini atau tidak. Pekerjaan di luar rumah Ini diakibatkan oleh statis ASI karena interval antar menyusui yang panjang dan kekurangan waktu dalam pengeluaran ASI yang adekuat.

Trauma Trauma pada payudara karena dapat merusak jaringan kelenjar dan saluran susu dan hal ini dapat menyebabkan mastitis. Payudara yang terbendung membesar, membengkak, keras dan kadang terasa nyeri.

Payudara dapat terlihat merah, mengkilat dan puting teregang menjadi rata. ASI tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI sampai pembengkakan berkurang. Ibu akan tampak seperti sedang mengalami flu, dengan gejala demam, rasa dingin dan tubuh terasa pegal dan sakit.

Terjadi pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama dengan payudara yang terkena. Gejala yang muncul juga hampir sama dengan payudara yang membengkak karena sumbatan saluran ASI antara lain : a. Payudara terasa nyeri b. Teraba keras c. Tampak kemerahan d. Permukaan kulit dari payudara yang terkena infeksi juga tampak seperti pecah— pecah, dan badan terasa demam seperti hendak flu, bila terkena sumbatan tanpa infeksi, biasanya di badan tidak terasa nyeri dan tidak demam.

Pada payudara juga tidak teraba bagian keras dan nyeri serta merah. Bila terasa sakit pada payudara namun tidak disertai adanya bagian payudara yang mengeras, maka hal tersebut bukan mastitis Pitaloka, dalam Anonim, Namun semuanya bermuara pada proses infeksi. Mastitis akibat proses noninfeksi berawal dari proses laktasi yang normal.

Namun karena sebab-sebab tertentu maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan pengeluaran ASI atau yang biasa disebut sebagai stasis ASI. Hal ini membuat ASI terperangkap di dalam ductus dan tidak dapat keluar dengan lancar.

Akibatnya mammae menjadi tegang. Sehingga sel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan. Terjadi inflmasi hingga sehingga mempermudah terjadinya infeksi. Kondisi ini membuat lubang duktus laktiferus menjadi port de entry bakteri, terutama bakteri Staphylococcus aureus dan Strepcococcus sp.

Proses selanjutnya adalah infeksi pada jaringan mammae. Menyusui secara bergantian antara payudara kiri dan kanan b. Untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran, kosongkan payudara dengan cara memompanya c.

Minum banyak cairan e. Menjaga kebersihan puting susu f. Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui. Intervensi meliputi beberapa tindakan hygienitas dan kenyamanan: 1. Bra yang cukup menyangga tetapi tidak ketat 2. Perhatian yang cermat saat mencuci tangan dan perawatan payudara 11 3. Kompres hangat pada area yang terkena 4. Masase area saat menyusui untuk memfasilitasi aliran air susu, Jangan lakukan pemijatan jika dikhawatirkan justru membuat kuman tersebar ke seluruh bagian payudara dan menambah risiko infeksi.

Peningkatan asupan gizi dan cairan 6. Pengosongan payudara dengan sering akan mencegah statis air susu. Tetap berikan ASI kepada bayi, terutama gunakan payudara yang sakit sesering dan selama mungkin sehingga sumbatan tersebut lama-kelamaan akan menghilang, Bayi masih boleh menyusu kecuali bila terjadi abses. Kalau demikian keadaannya, untuk mengurangi bengkak, ASI harus tetap dipompa keluar. Bayi sebaiknya tetap menyusu pada payudara yang tak terinfeksi.

Antibiotik, Terapi antibiotik diberikan jika antara jam tidak terdapat perbaikan, terapi antibiotik meliputi: 1. Eritromisin mungkin digunakan jika wanita alergi terhadap penicillin. Terapi awal yang paling umum adalah dikloksasilin mg peroral 4 kali sehari untuk 14 hari.

Amoxicillin-clavulanate mg atau mg untuk 14 hari atau Clindamycin mg untuk 10 — 14 hari atau Trimethoprim- sulfamethoxazole dosis tunggal untuk hari. Pada setiap kasus, penting untuk dilakukan tindak lanjut dalam 72 jam untuk mengevaluasi kemajuan.

Jika infeksi tidak hilang hilang kultur air susu harus dilakukan. Analgesik,Rasa nyeri merupakan faktor penghambat produksi hormon oksitosin yang berguna dalam proses pengeluaran ASI. Analgesik diberikan untuk mengurangi rasa nyeri pada mastitis. Analgesik yang dianjurkan adalah obat anti inflamasi seperti ibuprofen. Ibuprofen lebih efektif dalam menurunkan gejala yang berhubungan dengan peradangan dibandingkan parasetamol atau asetaminofen.

Ibuprofen sampai dosis 1,6 gram per hari tidak terdeteksi pada ASI sehingga direkomendasikan untuk ibu menyusui yang mengalami mastitis. Sebagian besar mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir. Diagnosis mastitis ditegakkan apabila ditemukan gejala demam, menggigil, nyeri seluruh tubuh serta payudara menjadi kemerahan, tegang, panas dan bengkak. Beberapa faktor risiko utama timbulnya mastitis adalah puting lecet, frekuensi menyusui yang jarang dan pelekatan bayi yang kurang baik.

Melancarkan aliran ASI merupakan hal penting dalam tata laksana mastitis. Selain itu, ibu perlu banyak beristirahat, banyak minum, mengonsumsi nutrisi yang seimbang dan apabila perlu mendapatkan terapi medikasi analgesik dan antibiotik. Infeksi payudara atau mastitis perlu diperhatikan oleh ibu-ibu yang baru melahirkan.

Infeksi ini biasanya terjadi disebabkan adanya bakteri yang hidup di permukaan payudara. Berbagai macam faktor seperti kelelahan, stres, dan pakaian ketat dapat menyebabkan penyumbatan saluran air susu dari payudara yang nyeri dan jika tidak dilakukan pengobatan, maka akan menjadi abses.

Namun, banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko mastitis yaitu dengan cara tidak mengenakan bra atau pakaian yang tepat menekan saluran susu danmenghambat aliran susu, menyusui sesering bayi menginginkannya. Karenadengan membiarkan pada waktu menyusui terlalu lama, saluran susu dapat tersumbat saat pertama kali bayi tidur semalaman tanpa menyusui.

HANDBOOK OF HYDRAULICS BRATER PDF

Makalah Mastitis

Mastitis ini dapat terjadi kapan saja sepanjang periode menyusui, tapi paling sering terjadi antara hari ke dan hari ke setelah kelahiran. Mastitis Payudara bengkak yang tidak disusukan secara adekuat. Bra yang terlalu ketat. Puting susu lecet yang menyebabkan infeksi. Asupan gizi kurang, istirahat tidak cukup dan terjadi anemia. Gejala Payudara tampak merah pada keseluruhan atau di tempat tertentu. Payudara terasa keras dan berbenjol-benjol.

EVERSTAR MPM1-10CR-BB6 MANUAL PDF

MAKALAH KEBIDANAN MASITITIS ( PERADANGAN PAYUDARA)

Kadang keadaan ini dapat menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat. Mastitis adalah reaksi systemic seperti demam yang terjadi 1 — 3 minggu setelah melahirkan sebagai komplikasi sumbatan saluran air susu, dan putting susu lecet atau luka. Mastitis adalah infeksi dan peradangan pada mamma tertutama pada primpara dan terjadi luka pada putting susu, mungkin juga peredaran darah. Mastitis adalah infeksi bacterial yang sering terjadi pada pasca partum semasa awal laktasi jika organisme berhasil masuk dan mencapai jaringan payudara melalui sisura pada putting. Abses payudara pengumpulan nanah local di dalam payudara merupakan komlpikasi berat dari mastitis.

DENISE SCHMANDT BESSERAT PDF

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi. Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi. Infeksi ini terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah Prawirohadjo, Mastitis adalah peradangan payudara, yang dapat disertai atau tidak disertai dengan infeksi.

Related Articles